Yakinlah Kemenangan Kaum Muslimin Pasti Akan Datang! (bagian 1)


cahaya kebenaran
[color=grey]cahaya kebenaran[/color]

Yakinlah Kemenangan Kaum Muslimin Pasti Akan Datang!

Jika menceritakan kondisi umat Islam belakangan ini, sungguh menjadikan hati kita tersayat. Betapa penderitaan berkepanjangan yang menderanya tak kunjung berakhir. Musibah demi musibah datang silih berganti, cobaan demi cobaan yang menyelimutinya tak kunjung lepas.

Namun yang perlu kita sadari bersama bahwa kaum selain kita juga merasakan kesulitan yang sama. Hanya saja obyek perasaan derita kita berbeda dengan yang mereka rasakan. Kesulitan kita adalah betapa beratnya mempertahankan konsisten (Iltizam), keteguhan (tsabat), kesabaran, istiqamah, dalam menjalankan syariat Islam di tengah-tengah gegap gempitanya manusia yang berkonspirasi memarjinalkan peran Allah dalam kehidupan ini.

Sedangkan kesulitan kaum kafir dan munafikin adalah mempertahankan status quo kebatilan di tengah maraknya kebangkitan umat Islam. Mereka bersusah payah menyebarkan propaganda kebencian terhadap dakwah Islam. Bahkan tak segan mereka menuduh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai hate speech (ujaran kebencian), ayat-ayat provokasi dan lain sebagainya.

Namun, di tengah itu fenomena kesadaran beragama para mahasiswa, kaum intelektual, kaum perkotaan semakin mengeliat. Mereka berusaha secara maksimal untuk membendung gejala kesadaran kembali kepada Islam. Nampaknya kebangkitan Islam itu tidak bisa di redam dan diredupkan. Usaha para pembenci dakwah Islam hanya sia-sia belaka.

“Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang orng beriman).” (QS Al-Fath ayat 29).

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya agama Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah ayat 32-33).

“Telah nampak kebencian pada mulut mulut mereka, dan apa yang disimpan di dada mereka lebih besar.” (QS Ali-Imran ayat 118).

Tidak kita saja yang menderita kesulitan, mereka juga merasakan keadaan serupa dalam menghadapi banyaknya kaum terpelajar, bangsa bangsa di negara maju ingin kembali kepada ajaran yang sesuai dengan fitrah mereka. Setelah mereka lari dari agama (non-Islam) karena di persepsikan menghambat kemajuan berfikir.

Kejayaan Dipergilirkan
Terjadilah kebebasan yag tak terkendali, sains dan teknologi yang menjadi sarana kehidupan pada kehidupan globalisasi sebagai produk paham kebendaan, terbukti gagal dalam memandu manusia modern menemukan kebahagiaan hidup. Mereka kembali kepada aliran eksitensialisme (hati nurani) tetapi hati nurani seseorang di pengaruhi oleh lingkungan pendidikan, pergaulan, persepsi, kebiasaan yang berbeda-beda.

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget

Blogroll