Tatacara Shalat 'Kusuf' Gerhana Matahari


gerhana
[color=grey]ilustrasi gerhana[/color]

Tatacara Shalat 'Kusuf' Gerhana Matahari


Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Gerhana matahari dan bulan merupakan fenomena alam yang tidak seperti biasanya. Kaum muslimin diperintahkan melaksanakan shalat gerhana. Pada gerhana matahari biasanya disebut dengan shalat kusuf, sedangkan pada gerhana bulan dengan shalat khusuf. Namun terkadang kedua nama tersebut memiliki arti yang sama. Artinya kusuf bisa digunakan untuk gerhana matahari dan bulan, begitu juga khusuf.

Sebagaimana yang sudah ramai diberitakan, Rabu (9 Maret 2015) besok akan terjadi gerhana matahari di awal hari. Khususnya Indonesia, semua wilayahnya akan mengalami gerhana. Namun sebagiannya total dan sebagian wilayahnya mengalami gerhana sebagian. Karenanya, kaum muslimin yang menyaksikan gerhana tersebut disyariatkan untuk mengerjakan Shalat Kusuf. Kaifiyahnya, memiliki sedikit perbedaan dari shalat pada umumnya.

Tidak ada perselisihan di antara ulama, shalat gerhana dikerjakan 2 rakaat. Dan pendapat yang masyhur dari pelaksanaannya adalah pada setiap rakaatnya dua kali berdiri, dua kali bacaan, dua kali ruku, dan dua kali sujud. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi'i, dan Imam Ahmad rahimahumullah. Argument mereka sebagai berikut:

Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, ia mengatakan: "Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau shalat dan orang-orang mengikuti shalat beliau. Kemudian beliau berdiri dalam waktu yang sangat panjang sepanjang sekitar bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang sangat panjang. Kemudian beliau berdiri cukup panjang, namun lebih pendek dari yang pertama. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang cukup panjang, namun lebih pendek daripada ruku yang pertama." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengerjakan shalat pada saat terjadi gerhana matahari. Kemudian beliau berdiri lalu bertakbir, lantas membaca bacaan yang sangat panjang. Kemudian ruku dengan ruku yang sangat panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil berucap, SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH. Beliau tetap berdiri seperti itu, kemudian membaca bacaan yang sangat panjang, tetapi lebih pendek dibandingkan bacaan yang pertama. Kemudian beliau ruku dengan ruku yang sangat panjang, tetapi tidak sepanjang ruku yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang. Beliau melakukan itu pada rakaat kedua, kemudian mengucapkan salam." (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits Jabir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada hari yang sangat panas. Kemudian beliau shalat bersama para sahabatnya dengan memperpanjang berdiri hingga membuat mereka jatuh tersungkur. Kemudian beliau ruku dengan panjang, lalu mengangkat kepalanya dan berdiri dengan masa yang panjang. Kemudian beliau ruku kembali dengan ruku yang panjang. Kemudian beliau sujud dua kali, lalu berdiri kembali. Beliau mengulanginya seperti rakaat pertama. Jadi shalat tersebut, empat kali ruku dan empat kali sujud." (HR. Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, dan Ahmad).

Jadi dapat diringkas dari tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:

- Bertakbir, membaca istiftah, Isti'adzah, al-Fatihah, kemudian membaca surat yang panjang, setara surat Al-Baqarah (ini disesuaikan dengan lama atau sebentarnya peristiwa gerhana).

- Ruku dengan ruku yang panjang (lama).

- Bangkit dari ruku dengan mengucapkan Sami'Allahu Liman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd (atau bacaan-bacaan masyru’ lainnya).

- Tidak langsung sujud, tetapi membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dari Al-Qur'an namun tidak sepanjang pada bacaan sebelumnya.

- Ruku kembali dengan ruku yang panjang tapi tidak sepanjang yang pertama.

- Bangkit dari ruku dengan mengucapkan, Sami'Allahu Liman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd (atau bacaan-bacaan masyru’ lainnya).

- Sujud, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.

- Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, dan caranya seperti pada rakaat pertama tadi.

-Tasyahhadu dan salam.

Source : voa-islam.com

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget

Blogroll