Dua Pekan Islamic State (IS) Membabat Tiga Jenderal Iran di Aleppo, Siapa IS? Part 2


Dua Pekan Islamic State (IS) Membabat Tiga Jenderal Iran di Aleppo, Siapa IS? Part 2

Irak di bawah rezim Syiah yang dipimpin Nuri al-Maliki yang menjadi kaki tangan CIA itu, memberlangsungkan 'Syiahisasi'. Nuri al-Maliki bekerjasama dengan kelompok-kelompok milisi Syiah yang didukung dari Teheran, menghancurkan kelompok Sunni di Irak. Mereka menghancurkan kelompok-kelompok Sunni secara total dengan cara-cara yang sangat kotor. Selanjutnya Nuri al-Maliki dipandang oleh Barack Obama merugikan kepentingan Amerika dengan cara mempertajam konflik antara Syiah-Sunni. Ia pun digantikan oleh Haedar al-Abadi. Tokoh baru ini tidak beda dengan al-Maliki yang juga menjadi 'begundal' Amerika namun lebih lemah. Itu karena al-Abadi sudah tidak memiliki dukungan dari kalangan militer Irak.

Sejak invasi militer Amerika ke Irak, angkatan bersenjata Irak bubar. Personilnya meninggalkan kesatuannya dan terlibat dalam berbagai kelompok bersenjata yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan 'boneka' Amerika yang dipimpin Nuri al-Maliki dan Haedar al-Abadi. Unsur-unsur militer yang dahulunya menjadi pendukung “Partai Baath” ikut bergabung melawan rezim Syiah di Irak. Inilah bentuk konfigurasi baru di Irak dan Suriah.

Hingga saat ini Rusia masih memiliki ambisi ingin menguasai Irak dan Suriah. Itu karena kedua negara tersebut memiliki posisi sangat strategis secara geopolitik sehingga terus dipertahankan apapun resikonya. Rusia ingin terus mengokohkan posisinya di Irak dan Suriah, dan menghancurkan semua kekuatan yang menjadi ancaman bagi kepentingannya di kawasan itu, termasuk IS.

Sedangkan Iran memunyai kepentingannya sendiri. Iran ingin membangun hegemoni di kawasan Timur Tengah dengan caraa menguasai wilayah yang membentang seperti “bulan sabit”, yaitu meliputi Lebanon, Irak, Bahrain, Suriah, dan Yaman. Dengan menguasai wilayah yang begitu luas, maka Iran akan menjadi kekuatan super power baru di Timur Tengah dengan menggunakan instrumen “Syiah”, bagi penguasaan di setiap wilayah atau negara.

Iran mengirim ribuan pasukan reguler, termasuk pasukan Garda Revolusi dan Garda Republik untuk ikut bertempur di Suriah dan Irak. Iran juga memobilisasi kelompok yang memiliki afiliasi ideologi (Syiah) di Turki, Yaman, Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain untuk ambil bagian di Suriah dan Irak.

Inilah yang sangat mengkhawatirkan bagi negara-negara kawasan Teluk. Ditambah dengan persetujuan nuklir antar enam negara utama Barat dengan Iran tentang program nuklir Iran di Wina (Austria), membuat kondisi di Timur Tengah semakin kompleks.

Kematian tiga orang jenderal Iran itu, adakah memang kecanggihan taktik dan strategis IS, atau IS sudah memiliki informasi intelijen dari orang-orang 'dalam' di Irak dan Suriah, sehingga dengan sangat mudah membunuh tiga orang jenderal Iran yang menjadi faktor penting dalam perang di Suriah ini? Siapa yang memasok informasi intelijen kepada IS yang dapat menjangkau orang yang sangat 'penting' di dalam herarki militer Iran kemudian membunuh mereka di medan perang Aleppo?

IS walaupun menghadapi serangan Rusia, Amerika dan Sekutu, tetap bisa memainkan 'kartu' penting dalam perang darat di Suriah. Inilah sebuah teka-teki yang sangat rumit, dan sampai kepada pertanyaan siapa sejatinya IS. Mungkinkah IS hanya bagian dari kekuatan yang sedang berspekulasi di Iran dan Suriah, dan ingin menghancurkan seluruh kawasan Timur Tengah?

Atau IS sebuah kelompok yang memang memiliki kemampuan militer yang sangat canggih, terutama dalam taktik dan strategi perang, sampai memporak-porandakan situasi perang yang melibatkan Rusia, Amerika dan sekutunya? Wallahu'alam.
Sumber: Voa-Islam

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget

Blogroll