Dua Pekan Islamic State (IS) Membabat Tiga Jenderal Iran di Aleppo, Siapa IS? Part 1


Dua Pekan Islamic State (IS) Membabat Tiga Jenderal Iran di Aleppo, Siapa IS? Part 1

Gemuruh ledakan rudal dari jet-jet supersonik Rusia terus menghantam posisi-posisi pejuang Islam di Aleppo, Hama, Latakia dan Raqa. Tidak pernah berhenti Rusia menjatuhkan rudal-rudalnya dari udara ke posisi pejuang Islam.

Rusia juga melakukan serangan rudal balistik yang ditembakkan dari kapal induknya di laut Mediterania dengan tujuan menghancurkan kekuatan pejuang Islam. Mereka berusaha menghalangi kejatuhan rezim Bashar al-Assad. Tapi justru dalam dua minggu terakhir tersiar kabar, tiga Jenderal Iran tewas di medan perang Aleppo di tangan IS.

Pertama yang tewas di tangan mujahidin IS adalah seorang Panglima Garda Republik Iran, Jenderal Hossien Hamedani saat berlangsung pertempuran di Aleppo. Hosssien Hamedani adalah tokoh militer paling senior, di bawah Jenderal Soelaemani, yang sekarang masih bercokol di Irak.

Selain Jenderal Hossien Hamedani yang tewas, sepekan berikutnya dua orang jenderal Iran yaitu Mayor Jenderal Farshad Hasounizadeh dan Brigadir Hamid Mokhtarband. Keduanya Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), tewas dalam perang di Alepoo, ungkap kantor berita Tasnim, Selasa, 13/10/2015.

Kematian Jenderal Hossien Hamedani justru terjadi di tengah keputusan yang sangat dramatis yaitu saat Presiden Rusia Vladimir Putin bersumpah ingin menghabisi IS sampai ke akar-akarnya di Suriah. Putin berjanji akan menjadikan Suriah bersih dari 'teroris'.

Pemimpin negeri 'Beruang Merah' ini berjanji ingin menjadikan kota-kota di Suriah yang jatuh ke tangan pejuang Islam, termasuk IS akan dijadikan seperti 'GROZNY' yaitu rata dengan tanah. Putin akan melaksanakan politik 'bumi hangus', kota-kota yang menjadi 'stronghold' (basis kekuatan) para pejuang Islam itu.

Putin sudah bersumpah tidak akan membiarkan Suriah jatuh ke tangan para pejuang Islam. Suriah adalah sekutu utama Rusia, sejak zamannya Uni Soviet. Suriah sudah membangun hubungan dengan Soviet sejak era perang dingin. Sesudah Soviet bubar, Rusia di bawah Putin yang mantan Kepala KGB ingin tetap melanggengkan hubungan tersebut.

Suriah pun tetap menjadi sekutu strategis Rusia usai perang dingin. Rusia memandang Suriah sebagai negara yang sangat straregis sehingga menempatkan pangkalan militernya yang terbesar di Timur Tengah di kota kelahiran Basha al-Assad, Latakia. Rusia tak akan pernah melepaskan Suriah dan Bashar al-Assad, berapapun harga yang harus dibayar.

Mengapa sampai tiga orang jenderal Iran tewas di Suriah? Sejatinya, Irak dan Suriah itu, dahulunya menjadi sekutu utama Soviet. Suriah di bawah Presiden Hafez al-Assad (ayah Bashar al-Assad) dan Irak di bawah Saddam Husien. Keduanya menganut ideologi sosialis dalam wujud Partai Baath. Antara Hafez al-Assad dan Saddam Husien, keduanya sekutu dekat, dan masuk dalam 'orbit' strategis bagi Soviet.

Kemudian terjadi perubahan besar ketika Amerika melakukan invasi militer ke Irak tahun 2002, sesudah terjadinya pemboman Gedung WTC, September 2001. Presiden George W.Bush memaklumkan perang semesta melawan teroris, dan menghancur-leburkan Irak, termasuk menggulingkan Saddam Husien, dan menggantungnya. Sejak itu, Irak berada di tangan rezim Syiah Nuri al-Maliki yang 'begundal' Amerika.

Betapapun Amerika berhasil menduduki Irak dan menghancurkan seluruh kekuatan militernya, tapi kelompok perlawanan di Irak tak pernah berhenti. Kelompok perlawanan ini khususnya dari Sunni yang membentuk berbagai kekuatan bersenjata melawan pasukan Amerika dan rezim Syiah yang menjadi 'begundal' Amerika. Kelompok Sunni ini menjadi kekuatan kelompok bersenjata yang paling masyhur di Falujah. Amerika pun tidak tahan terus berperang di Irak dan akhirnya menarik diri di akhir 2005. Bersambung..

Comments

  • No Comment Yet
Please login first for post a comment

Widget

Blogroll